Cinta di Hati Sarah

Sarah bukanlah gadis yang pandai. Namun, ia adalah gadis cantik yang tegas dan berwibawa. Rangkingnya tak pernah menembus lima besar, namun ia tegar lagi pemberani. Ia hampir selalu punya ide dan solusi cerdas untuk menyelesaikan masalah. Ia nggak banyak omong bahkan sangat cuek namun tak pernah ia mengecewakan setiap orang yang mengajaknya ngobrol. Jika ia kesulitan mengerjakan soal matematika yang rumit, ia memilih diam menekuri rumus, lalu mencobanya. Jika berhasil, ia tulis di bukunya. Jika gagal, tak sungkan ia bertanya.

Kami, temen-temen sekelasnya sering mendapat saran dan solusi bagi masalah yang kami alami. Kadang kami melihatnya berdebat dan ia hampir selalu menang dengan argumennya yang sangat logis. Pernah suatu kali aku tanya, kenapa dia bisa pinter debat, terus dia jawab….
“Aku nggak pernah berniat ndebat orang, aku cuma mau ngebuka pikiran orang yang agak tertutup waktu itu…”
“Berarti kamu cerdas dong! Habis aku hampir liat kamu slalu menang. Itu artinya pikiran kamu lebih terbuka dibanding mereka.” kataku girang.
“Ra, aku nggak peduli aku menang apa enggak. Karena kebenaran itu bisa keluar dari mulut siapapun.” katanya bijak. “..bukan nggak mungkin kok, aku kalah debat dan aku nggak kecewa karna itu.” ucapnya santai sambil menyeruput jus avokad kesukaannya. Kami memang lagi di kantin waktu itu. Aku cuma mringis sambil makan roti pisang. Aku tahu aku bakal kalah debat sama dia.
“Kalo gitu, kamu pernah kalah debat nggak, Rah? Kalo iya, kalah sama sapa?” tanyaku iseng.
“Aku slalu kalah sama Mama…” jawabnya santai.
“Ow…brarti bakat kamu tuh nurun dari ibu, ya?” tanyaku kagum. Seperti anak kecil yang seneng liat anak bebek renang sama induknya. Sarah tak menjawab. Aku semakin kagum.
Aku salut sama Sarah yang cerdas bukan main, meski dia nggak pinter. Aku inget waktu SMP dulu, guruku pernah bilang kalo orang pinter itu kalahnya sama orang cerdas. Aku nggak pernah percaya, tapi sekarang Sarah seolah diutus untuk meyakinkanku akan kebenaran hal itu. Kebanyakan orang pinter yang aku kenal di sekolah nggak pinter dalam nyelesaiin masalah. Mereka juga nganggep ilmu itu untuk dihafal saat itu aja tanpa perlu dipahami dan diinget sampe tua. Tapi Sarah beda. Walaupun dia cuek bebek tapi dia seperti menunjukkan padaku bagaimana hidup harus dijalani.
Sayang, kini semua sudah terkubur dalam kenangan. Telah menguap bersama embun dalam gumpalan awan. Menyisihkan satu sisi mozaik kehidupan, dimana hanya ada secuil harapan dalam do’a bahwa ia kan kembali. Kini, tak kujumpai lagi Sarah yang kukenal dulu. Kami kehilangan dia, terlebih aku sebagai karibnya. Kami merindukan ketegarannya. Tapi, kami tak mengenalnya sekarang. Ia berubah. Ia mengalami tekanan batin yang luar biasa ketika orang-orang yang cintai perlahan pergi meninggalkannya. Sendiri. Terpuruk di sudut ruang mimpi.
Semua berawal ketika kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat. Beberapa bulan kemudian ia harus merelakan adiknya meninggal karena kanker otak yang ia alami. Sementara, kakak lelaki satu-satunya yang ia miliki pergi meninggalkannya dengan sepucuk surat. Sarah pernah memberikan surat itu padaku. Surat tanpa amplop itu berisi bahwa kakak Sarah pergi merantau. Entah kemana. Apapun itu, di situ, di sudut ruang waktu, Sarah tetaplah Sarah yang tegar. Ia memang menangis, tapi tidak di hadapan kami. Melainkan di hadapan Allah SWT. Saat ia bersimpuh di mushola, tak pernah kering bola matanya yang indah itu.
Hingga belakangan kami tahu, ia menyukai salah seorang cowok di sekolah kami dan cowok itu menyukai cewek lain yang juga satu sekolah dengan kami. Semenjak saat itu, runtuhlah pilar ketegaran yang ia miliki. Jiwanya terguncang. Batinnya tertekan. Ia menangis terisak dan pelan di depan kami. Bahkan sangat pelan, tapi begitu perih menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Menunjukkan betapa hatinya terluka. Betapa sepi telah mengikat hidupnya. Betapa cinta telah menggores luka begitu dalam di hatinya. Betapa ia telah kehilangan cahaya cinta yang baru ia rasa begitu indah.
“Cinta bukan lagi bagian dari hidupku!” katanya ketus. Dalam dan menusuk. Tatapannya tajam dan dingin ke depan. Ia tak lagi percaya pada cinta dan tak lagi mengakui cinta dalam hidupnya.
“Tapi, kita nggak bakal hidup kalo nggak ada cinta..” sanggahku ragu. Napasku berat.
“Cinta udah mati dalam hatiku!”
“Rah, apa kamu nggak sadar? Tanpa kau tahu, ada yang bahagia melihatmu tersenyum… dan semua itu cuma ada karna cinta.”
“Dia cuma bahagia ngeliat aku tersenyum, tapi dia nggak bisa buat aku tersenyum!” katanya tegas tanpa ekspresi di wajahnya lalu menoleh dan menatapku tajam, “…itukah cinta yang kau maksud, Andara?”
Glekk!
Aku menelan ludah. Ku pejamkan mata dan mendesah pelan. Inikah hati seorang gadis yang terluka karna cinta? Atau kebanyakan orang bilang patah hati?
“Kalo menurut gue sih, bukan karna itu kok, Ra!” jawab Niken, yang juga karibku saat kutanya padanya.
“Tapi, dia berubah sejak dia tahu Kak Rio, cowok yang dia suka ternyata suka sama cewek laen…”
“Ra, inget dong! Sebelum itu, dia udah kehilangan empat orang yang dia sayangi. Mungkin, karna itu dia jadi nganggep Kak Rio sebagai satu-satunya orang yang tersisa di hatinya dan dia jadiin Kak Rio sebagai pegangan buat hatinya yang rapuh…” terang Niken panjang lebar, “…nah, waktu orang terakhir yang ada di hatinya juga hilang, otomatis dia nggak punya pegangan lagi dan mentalnya jadi down.”
“So?”
“So, intinya semua ini bukan semata-mata karna dia….yah sebut aja patah hati, tapi mungkin latar belakangnya adalah ia kehilangan orang-orang yang dia sayangi dalam waktu yang hampir bersamaan.”
Aku mengangguk pelan. Ada benernya omongan Niken. Selama ini Sarah deket sama Kak Rio melalui salah satu organisasi di sekolah kami. Setahu kami mereka bersahabat, sampai kami menganggap mereka kakak adik. Kak Rio nganggep Sarah seperti adiknya karna sifat dan wataknya yang keras dan cuek. Yang tak ia sadari bahwa Sarah punya perasaan yang lebih dari itu. Mereka saling curhat, termasuk musibah yang Sarah alami. Karna itu, nggak heran jiwanya tertekan setelah beberapa hari kemudian, Kak Rio curhat kalo dia suka sama cewek di sekolah kami. Membuatnya terjatuh dalam cerita cinta pilu. Membuatnya merasa terkhianati dan terlukai oleh cinta yang ia rasakan. Dan kini, luka itu belum hilang. Sangat membekas, hingga membuatnya tak lagi mempercayai cinta.
“Sarah, kalo orang tuamu bahagia di syurga, gimana kalo Allah ngijinin mereka ngeliat putrinya, sedang ia telah berubah? Menjadi seorang wanita yang nggak punya rasa cinta?” aku kembali menghibur. Mencari celah di hatinya untuk menghidupkan lagi cahaya cinta yang lama redup di hatinya.
Tapi Sarah diam, tak langsung menjawab. Tatapannya lurus ke depan. Hingga kudengar suaranya yang parau dan berat,,,
“Andara, tahukah kau? Setiap saat aku berdo’a dan berharap semoga mereka bahagia di syurga dan tak lagi melihat putri kecilnya yang terluka” selaput bening menutupi bola matanya yang indah itu. Lalu perlahan meleleh seperti mutiara yang berjatuhan di kulit pipinya yang putih. Ia melelehkan air mata namun dingin tanpa ekspresi.
Aku mendesah pelan. Aku tahu semua ini bukanlah apa-apa. Ini hanya secuil dari mozaik hidup Sarah yang Allah gariskan. Dari sekian kebahagiaan yang Dia berikan untuk Sarah, Dia ingin menguji seberapa kuat kekuatan cintanya pada Allah dengan memisah Sarah dengan orang-orang yang ia sayangi. Dan aku, Andaranisa Desvita Sari, selalu berharap agar Sarah dapat lolos dari semua ini. Bantulah ia Ya Allah…

Yogyakarta, 10 Januari 2002

***
Kututup buku diary yang kutulis tujuh tahun yang lalu. Kutipan sebuah cerita di langit cinta. Berawal mendung dan berakhir oleh pelangi. Membuang seluruh luka yang terukir tanpa sisa. Menyadarkanku bahwa semua ini terencana. Rencana Sang Pencipta yang membuatku yakin akan kuasaNya.
Kuambil sebuah undangan di mejaku. Undangan berwarna biru muda bermotif bunga. Tertulis begitu anggun didalamnya nama sang pengantin wanita. “Sarah Rafika Nadya”. Di dalam undangan, juga ada sebuah surat pribadi dari Sarah khusus untukku. Dengan kalimat singkat ia menulis:

Andara, pelangi cinta telah menghapus mendung di hatiku, dan sinarnya akan kubagi separuh untukmu. Kuharap kau bersedia memenuhi undanganku, sebagai tamu istimewa bagiku.

Sarah RN

Aku mendesah. Desah yang berbeda dengan desahanku dulu. Perasaan lega terselip dihatiku. Lalu menjalar ke seluruh tubuhku dan memaksa tanganku untuk menulis sesuatu di diary.

Dengan siapa ku kan bercerita?
Tentang seorang gadis pencari cinta…
Mengukir laranya di langit dunia..
Bahwa cinta lukai hatinya
Namun langit tak bertanya..
Juga tak bercerita
Hanya mutiara mimpi yang ia beri
Yang menetes seperti embun pagi..
Lalu ia beri pelangi..
Warnanya hapus sgala kepiluan hati
Hingga terukir indah di langit dunia
Bahwa kini ia bahagia.

***

Senin, 10 Agustus 2009

By: Arini HD

tOur d'JakaRte

Tinggalkan sebuah Komentar